• INFOPERKARAANDA
  • JADWALSIDANG
  • PUTUSANPENGADILAN
  • PRODEO
  • INFOKEUANGANPERKARAANDA
  • LAYANANPENGADUAN
  • MAINPAGENEW 12
  • MAINPAGENEW 14

Gallery Kegiatan Pengadilan Agama Kelas 1 A Purwodadi

Belajar Menjadi Penulis

BELAJAR MENJADI PENULIS  :

(Upaya Memperpanjang Jejak-jejak Kehidupan)*

Oleh : DR. Ahmad Zuhdi**

Menulis adalah mencipta di mana seorang sedang mengarahkan semua pengetahuan, daya dan kemampuan, bahkan seluruh jiwa dan nafas hidupnya. Menulis merupakan upaya mempertegas jejak-jejak kehidupan. Dengan tulisan, seolah orang tetap akan hidup meski secara fisik telah meninggal dunia.

          Oleh karena itu Imam Ghazali berpesan jika kau bukan anak raja atau anak ulama besar maka menulislah. Sementara Iman Asy-Syafi’i menganalogkan ilmu ibarat hewan buruan (yang liar) dan tulisan adalah tali pengikatnya. Jika binatang itu tidak diikat, maka ia akan sangat mudah lepas atau lari dari pemiliknya. Maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat.

Menulis Sebagai Bukti Hidup

Nabi Muhammad SAW mengisyaratkan, hanya yang memiliki prestasilah yang bisa “merebut” simpati dan akan bersemayam lama dalam memori orang lain. Isyarat itu dapat kita tangkap dalam sabda beliau :

اذا مات ابن ادم انقطع عمله الا من ثلاث : صدقة جارية  اوعلم ينتفع به اوولد صالح يدعوله

(Jika anak adam/manusia telah mati, maka amalnya akan terputus kecuali 3 hal, yakni sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh (yang mendoakan kedua orang tuanya).

Ketiga hal yang disebutkan dalam hadits tersebut merupakan ujud dari prestasi. Dengan memiliki ketiga-tiganya, atau setidak-tidaknya satu dari ketiganya, maka orang akan mempunyai sebutan panjang dan pahala yang tak terputus meskipun orang itu telah meninggal dunia. Mengapa demikian? Karena berarti dia memiliki prestasi dan suatu manfaat yang bisa diberikan atau ditiru orang lain. Orang  yang  tidak  memiliki sesuatu, ia tidak bisa memberikan sesuatu. Imam Malik berkata :

من لم يملك شيئا لم يعط شيئا

(Barang siapa tidak memiliki sesuatu, ia tidak bisa memberikan sesuatu).

Dikaitkan dengan statemen Imam Ghazali dan Imam Syafi’i di atas, menulis dapat menjadi sarana untuk merealisasikan hadits di atas, tentu sepanjang tulisan yang dibuat tidak melanggar norma-norma agama, mencerdaskan dan bermanfaat bagi orang lain. Tulisan yang baik dan mencerdaskan akan menjadi amal jariyah, sekaligus menjadi ilmu yang menginspirasi atau ikut membentuk pola berfikir dan prilaku orang lain. Para ulama telah membuktikan hal ini. Banyak di antara mereka telah menulis kitab berjilid-jilid dalam berbagai disiplin ilmu. Imam Ghazali sendiri menulis lebih dari 400 judul kitab, Imam Nawawi yang belum sempat menikah sampai akhir hayatnya, juga telah menulis ratusan judul kitab, dan lain-lain.

Amal jariyah berupa tulisan dapat menjadi “bukti hidup” bagi seseorang yang akan memperpanjang jejak-jejak kehidupannya. Hanya anak yang shalih barangkali yang tidak dapat diwakili oleh tulisan, setidak-tidaknya jika “anak shalih” itu dipahami sebagai anak secara fisik. Namun demikian anak juga bukan “satu-satunya” bukti hidup bagi seseorang, karena hewan juga bisa mempunyai anak, bahkan lebih banyak, dan tumbuh-tumbuhan yang konon tidak berkelamin, juga bisa mempunyai anak. Oleh karena itu kalau anak akan dijadikan (tolok ukur) bukti kehidupan, hanya anak yang shalih yang memiliki bobot atau kapasitas sebagai anak yang bisa memberikan jariyah bagi orang tuanya.  Anak yang “ghoiru sholih” hanya akan menjadi fitnah yang merepotkan orang tuanya.

Tulisan akan menjadi salah satu bukti kehidupan bagi seseorang, sekaligus menjadi sarana pembelajaran (thalabul ilmi) bagi orang lain yang berminat. Dengan tulisan, orang akan dikenal dan dikenang sepanjang tulisan itu masih dibaca orang, bahkan jika dari tulisan itu diamalkan orang lain (untuk hal-hal baik), maka sang penulis akan terus mendapat pahala. Orang yang tidak mempunyai bukti kehidupan, begitu ia meninggal dunia, maka dalam waktu dekat ia akan dilupakan orang, bahkan kuburannyapun akan segera digusur untuk dipakai orang lain.

Jenis-jenis Tulisan

Untuk memulai menulis, orang tidak perlu takut salah. Dr. Kuntowijoyo (UGM) pernah memberikan resep untuk memulai menulis, yakni “menulis, menulis, dan menulis”. Maksudnya adalah mencoba dan mencoba, jangan takut gagal. Objek tulisan tentang apa saja, seperti tentang diri kita sendiri, peristiwa yang kita alami sehari-hari, atau hal-hal kecil yang ada di sekitar kita. Sekali lagi, semua itu bisa menjadi objek penulisan. Demikian juga, kita bisa memilih jenis tulisan yang kita kehendaki, karena banyak jenis tulisan yang bisa kita pilih. Ada tulisan ilmiah (menggunakan kalimat dan bahasa baku), ada tulisan populer (menggunakan bahasa ringan), dan ada pula tulisan sastra atau fiksi yang biasanya menggunakan “bahasa perasaan”.

Di samping itu ada penulisan jurnalistik,baik berupa berita (news) yakni laporan peristiwa berupa paparan fakta dan data, opini (yakni pandangan atau analisa dari seorang penulis tentang sesuatu (views). Bisa juga karangan khas seperti laporan perjalanan atau narasi dari sesuatu atau tentang peristiwa (feature). Feature adalah perpaduan antara  news dan views. Selain itu, penulisan jurnalistik juga mengenal esai, kolom, resensi, pojok, reportase mendalam (depth reporting atau investigative reporting), dan lain-lain.

Berbagai jenis tulisan tersebut mempunyai karakteristik sendiri, yang untuk membahasnya diperlukan waktu khusus. Dalam rangka mengembangkan website Pengadilan Agama Purwodadi agar lebih baik, tentu diperlukan SDM yang memiliki pemahaman ilmu jurnalistik – meskipun pada level pemula. Namun, satu hal yang tidak boleh dilupakan, seorang penulis di samping harus banyak berlatih, dia juga harus rajin membaca, karena dari sinilah dia memiliki bekal atau bahan tulisan. Tanpa banyak berlatih seorang penulis akan bingung darimana harus mulai, kaku, tidak memiliki arah serta fokus tulisan.  Dan tanpa banyak membaca, seorang penulis akan segera kehabisan bekal dan inspirasi, sehingga tulisannya akan kering dan “tidak selesai”. Tulisan yang baik dapat mengangkat masalah berat menjadi ringan sehingga mudah dicerna, enak dibaca dan – tentu saja - perlu. Nah ... selamat mencoba !!!

*) Disampaikan pada coffee morning Pengadilan Agama Purwodadi, 19 Juli 2017

**) Penulis adalah Hakim Pengadilan Agama Purwodadi

Berkolaborasi Melalui Terangnya Hati Membawa Hikmah

BERKOLABORASI MELALUI TERANGNYA HATI MEMBAWA HIKMAH

di Mushalla “al Hikmah” Pengadilan Agama Purwodadi

Selasa 11 Juli 2017 bertepatan dengan 16 Syawwal  1438 H Pengajian Padang Ati PA Purwodadi mengadakan  Shilaturrahmi dan Halal bihalal karyawan dan karyawati PA Purwodadi di Mushalla “Al-Hikmah” PA Purwodadi. Acara ini nampak istimewa  karena juga dihadiri Ketua, Wakil Ketua dan jajaran Hakim dari Pengadilan Agama Blora.

Sekitar pukul 21.00 WIB acara dimulai, diawali Istighatsah yang dipimpin H. Dul Djawahir, S.Ag. purnabhakti pegawai PA Purwodadi, sedangkan sambutan mewakili  Anggota Pengajian disampaikan Drs. H. Toha Mansyur, SH. MH (Ketua PA Purwodadi). Ceramah pengajian disampaikan Ketua Pengadilan Agama Blora, Drs. H. Samarul Falah, SH.MH. (Ketua PA Blora) sekaligus sebagai promotor berdirinya pengajian Padang Ati, sedangkan do’a dipandu oleh Drs. H. Hamdani, SH,MH (Hakim PA Purwodadi).

 1

Dalam sambutannya, Drs.H. Toha Mansur, SH.MH menyampaikan bahwa “Padang Ati“ sebagai ujud nyata kegiatan menuju terangnya hati. Karena itu pengajian yang diawali dengan istighotsah  ini mempunyai  arti yang sangat penting bagi kita. Selain sebagai  wahana shilaturrahmi, thalabul ‘ilmi, juga menjadi wahana mengolah hati (rasa). Drs. H. Toha Mansyur juga menyingung perlu pembinaan santri pasca Ramadlan dalam pengajian Padang Ati ini, karena masih perlu ditindak lanjuti  sebagai tanggung jawab bersama untuk kemajuan mereka khususnya dan warga Pengadilan Agama Purwodadi pada umumnya.

Memang mulanya mereka merasa pusing kalau diajak ngaji, namun setelah diberikan arahan dan bimbingan  sekarang menjadi senang. Pengajian  padang ati ini diharapkan dapat sebagai folow up pembinaan warga pengadilan sampai merasa membutuhkan, dan merasa rugi, minimal kehilangan kesempatan kebaikan dan hikmah yang banyak bagi dirinya bila tidak hadir.

Hati yang  hudlur.

Dalam ceramahnya Ketua PA Blora yang  biasa dipanggil Pak Samarul mengatakan bahwa, untuk mengukur tinggi rendahnya minat melaksanakan ibadah ditentukan oleh kemampuan (kecerdasan) seseorang dalam meyakini pertemuan atau menghadirkan diri di hadapan Allah,katanya. Untuk itu perlukan dua  sisi kacamata dalam memahami makna pokok ibadah terutama Shalat sebagai  tolok ukur ibadah-ibadah lain, dan masuknya makanan-makanan yang halal ke dalam badan jasmaninya dari sisi kacamata lain. Dengan kacamata lahir dan batin tersebut diharapkan dapat tumbuh subur dalam diri seseorang untuk merasa butuh ibadah-ibadah yang diwajibkan ataupun yang disunnahkan sampai kepada menemui ajal(واعبد ربك حتى يأتيك اليقين).

Penerimaan Calon Hakim di Lingkungan Mahkamah Agung RI Tahun Anggaran 2017

Purwodadi - Humas Bersama ini disampaikan Pengumuman Seleksi Penerimaan Calon Hakim di Lingkungan Mahkamah Agung RI Tahun Anggaran 2017 Nomor: 01/Pansel/MA/07/2017 tanggal 10 Juli 2017. Mahkamah Agung RI membuka kesempatan kepada Warga Negara Indonesia Pria dan wanita yang memiliki integritas dan komitmen tinggi untuk menjadi Calon Hakim yang akan ditugaskan pada lingkungan Peradilan Umum, Peradilan Agama dan Peradilan Tata Usaha Negara di seluruh Indonesia.

 

Download Dokumen :

Pengumuman CPNS

Formulir Surat Keterangan

AKTIVITAS KERJA PERDANA PASCA RAMADHAN 1438 H /2017 M DI PENGADILAN AGAMA PURWODADI

 

Mengawali masuk kantor,  setelah libur panjang ‘Idul Fitri, (23 Juni 2017 sampai dengan ahad 02 Juli 2017),    dalam rangka meningkatkan etos kerja, kebersamaan  dan mempererat tali shilaturrahmi   pegawai di Pengadilan Agama Purwodadi mengadakan apel pagi disertai acara Halal-bihalal. Acara ini dihadiri oleh Ketua, Wakil Ketua, Hakim PA, Pejabat struktural, pegawai dan honorer. Sekitar pukul 07.30 WIB acara dimulai dengan disiapkan oleh Komandan apel, Fathul Hadi, SH. dengan Inspektur adalah Ketua, Drs. H. Toha Mansyur, SH.MH. sedangkan untuk do’a dipandu  Drs. H. Hamdani, SH. MH (Hakim PA Purwodadi).

WhatsApp Image 2017-07-03 at 08.17.13

Dalam amanahnya, Ketua Pengadilan Agama Purwodadi  menyampaikan“tanda-tanda diterima ibadah puasa seorang hamba oleh Allah SWT”  dengan mengamalkan ruh/jiwa training selama bulan Ramadlan, teristimewa kejujuran dan kedisiplinan  dan menghindari pengangguran akan membawa kenikmatan tersendiri, karena kenikmatan itu justru terletak pada kesibukan itu sendiri dapat merangsang untuk meningkatkan taraf hidup dalam arti Syawal atau irtifa’ setinggi-tingginya.

PERINGATAN NUZULUL QUR’AN RAMADHAN 1438 H /2017 M DI PENGADILAN AGAMA PURWODADI

            Hari Rabu tanggal 15 Juni 2017 bertepatan dengan 17 Ramadhan 1438 H memasuki malam Nuzulul Qur’an, PA Purwodadi mengadakan peringatan  Nuzulul Qur’an dan Khataman Alquran yang disertai Buka Puasa Bersama karyawan dan karyawati PA Purwodadi di Aula PA Purwodadi. Acara ini dihadiri oleh Ketua, Wakil Ketua, Hakim PA, Pejabat struktural, pegawai dan honorer PA Purwodadi. Sekitar pukul 17.00 WIB acara dimulai dengan lantunan bacaan juz 30 Alquran mulai dari surat at-Takatsur  hingga an-Naas yang dibacakan ananda Nova putra Sekretaris PA Purwodadi sedangkan untuk do’a dipandu oleh bapak Drs. H. Ma’mun Azhar (Hakim PA Purwodadi). Khotmul Qur’an dihadiri dari 8 kelompok tadarus yang telah berjalan selama Ramadhan  yang disimak oleh Hakim-hakim PA Purwodadi. Khataman ini adalah puncak dari pelaksanaan tadarus yang telah dilaksanakan sejak 1 Ramadhan 1438 H. 

1